Sorot Media-Cilacap, 28 Oktober 2025
Saat musim kemarau atau disebut juga musim angin timur, membawa berkah bagi nelayan di pesisir Teluk Penyu. Bagaimana tidak, seperti musim kemarau ini, merupakan musim panen ubur-ubur.
Musim panen ubur-ubur di perairan Cilacap, Jawa Tengah, kembali membawa berkah bagi para nelayan. Komoditas laut ini tidak hanya diolah untuk bahan makanan, tetapi juga menjadi sorotan sebagai bahan baku penting untuk industri kosmetik di pasar internasional.
Nelayan di sekitar Pantai Teluk Penyu dan Jetis secara rutin menangkap ubur-ubur yang melimpah saat musim kemarau atau angin timuran. Hasil tangkapan ini kemudian dijual kepada pengepul dan selanjutnya diolah di gudang-gudang penampungan di sekitar kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap.
Dan salah satu perusahaan yang selama ini menjadi tempat penampungan hasil tangkapan nelayan adalah PT.HI.CA.Toni Cilacap. Di tempat penampungan para pekerja akan memisahkan antara badan dan kaki ubur-ubur lalu kemudian dibersihkan.
Ubur-ubur segar yang diterima dari nelayan mengalami proses pengolahan awal, termasuk pembersihan, pemisahan badan dan kaki, serta penggaraman atau pengeringan. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan keawetan sebelum dikirim ke luar wilayah Cilacap.
Menurut informasi dari pengepul, setelah melalui proses pengeringan, ubur-ubur tersebut dikirim ke eksportir di Jakarta untuk selanjutnya diekspor ke sejumlah negara di kawasan Asia Timur, seperti Tiongkok dan Jepang.
Tujuan ekspor utama ubur-ubur Cilacap adalah untuk diolah menjadi bahan makanan, dan yang tak kalah penting, sebagai bahan baku untuk produk kosmetik. Kandungan unik dalam ubur-ubur menjadikannya bernilai tinggi dalam industri kecantikan global.
Berkaitan dengan panen ubur-ubur menjadi tambahan penghasilan yang signifikan bagi ribuan nelayan dan warga sekitar yang terlibat dalam proses penangkapan dan pengolahan awal. Pada puncaknya, hasil tangkapan ubur-ubur di Cilacap dapat mencapai puluhan hingga ratusan ton per hari.
Potensi ubur-ubur sebagai bahan baku kosmetik ini menunjukkan betapa besar nilai ekonomi komoditas perikanan Cilacap, melampaui sekadar bahan pangan, dan berperan dalam rantai pasok industri global.
Untuk itu ada baiknya kita melihat apa manfaat dari ubur-Ubur dalam Industri Kosmetik
Ubur-ubur, atau jellyfish, menjadi incaran industri kosmetik global, terutama di negara-negara Asia Timur, karena kandungan biokimiawinya yang menjanjikan, terutama pada bagian payung (badan) ubur-ubur.
1. Kaya akan Kolagen (Marine Collagen)
Ubur-ubur mengandung kolagen jenis tertentu yang dikenal sebagai kolagen laut (marine collagen). Kolagen ini sangat diminati karena:
- Penyerapan Lebih Baik: Struktur molekulnya cenderung lebih kecil, sehingga lebih mudah diserap oleh kulit manusia dibandingkan kolagen dari hewan darat.
- Anti-Penuaan: Berperan penting dalam menjaga elastisitas dan kekencangan kulit, membantu mengurangi garis halus dan kerutan.
2. Sumber Protein dan Peptida
Daging ubur-ubur sebagian besar tersusun dari protein dan air. Protein ini, ketika diolah menjadi fragmen kecil (peptida), dapat berfungsi sebagai:
- Zat Pembangun: Membantu regenerasi sel kulit dan memperbaiki tekstur kulit yang rusak.
- Agen Hidrasi: Beberapa protein dan polisakarida memiliki kemampuan mengikat air yang sangat baik.
3. Sifat Hidrasi Tinggi
Kandungan air yang sangat tinggi (lebih dari 90%) pada ubur-ubur menunjukkan adanya zat-zat yang mampu mempertahankan kelembaban. Dalam kosmetik, ini diterjemahkan menjadi:
- Produk Pelembab: Ekstrak ubur-ubur digunakan dalam formula krim dan serum untuk memberikan kelembaban intensif dan membuat kulit terasa kenyal (plump).
4. Ekstrak untuk Kosmetik Inovatif
Beberapa penelitian juga mengarah pada pemanfaatan ekstrak ubur-ubur untuk tujuan yang lebih spesifik, seperti:
- Pencerah Kulit: Berpotensi menghambat produksi melanin.
- Perawatan Jerawat: Sifat anti-inflamasi alami yang mungkin ada.
Apa yang dilakukan oleh nelayan di Cilacap, mungkin dapat menjadi umpan buat nelayan di daerah lain, hanya saja mungkin di beberapa daerah lain belum ada perusahaan yang mau menampung dan mengolah hewan laut bertentakel. (Mia Hadyanto-Biro Cilacap)
