Sorot Media – SOPPENG, 17 September 2026
Dua puluh Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Sulawesi Selatan kini hadir dalam wajah baru: cerita bergambar yang dilengkapi narasi audio dalam tiga bahasa Bugis, Indonesia, dan Inggris. Inovasi bertajuk “Inovasi Pelestarian 20 Warisan Budaya Takbenda Sulawesi Selatan Melalui Cerita Bergambar Berbasis Audio Multilingual” ini diperkenalkan dalam kegiatan diseminasi di Aula Hotel Ada, Kabupaten Soppeng, Kamis (17/9/2026).
Karya yang didanai Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama LPDP melalui program Dana Indonesia Raya ini dirancang untuk mendekatkan pengetahuan tentang warisan budaya kepada generasi muda terutama di lingkungan sekolah melalui format yang lebih mudah diakses dan dipahami.
Sebelum diperkenalkan secara lebih luas di Soppeng, karya ini telah melewati tahap uji publik di dua sekolah, yakni SMPN 9 Kota Parepare dan SMPN 1 Lilirilau Kabupaten Soppeng, untuk melihat bagaimana materi dan medianya diterima dalam konteks pembelajaran nyata di kelas.
Sekitar 40 peserta hadir dalam diseminasi tersebut, terdiri atas guru Bahasa Indonesia, guru Bahasa Daerah Bugis (Muatan Lokal), guru Bahasa Inggris, pelaku dan pemerhati budaya, mahasiswa, serta siswa kombinasi yang sengaja dirancang untuk membuka ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan kebudayaan.
Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, Muhammad Husni, S.Pd., M.Pd., menyambut baik kehadiran program ini. “Kegiatan ini memang sudah lama kita nantikan. Dengan semakin meluasnya perkembangan kebudayaan, program seperti ini dapat membantu kebudayaan lokal lebih diperkenalkan dan dikembangkan melalui media yang lebih kekinian, yakni aplikasi berbasis website. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi media pembelajaran di sekolah-sekolah,” ujarnya.
Ketua Pelaksana, Suciaty Pratiwi, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa karya ini lahir dari persoalan yang selama ini dirasakan langsung oleh para guru di lapangan. “Kegiatan ini hadir atas sebuah fenomena semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap budaya lokal serta minimnya bahan ajar dengan konten lokal bagi guru-guru di sekolah. Sebagai langkah awal, kami mengangkat 20 Warisan Budaya Takbenda yang telah ditetapkan dari berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Kami berharap produk ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, utamanya di satuan pendidikan,” katanya.
Keduapuluh warisan yang diangkat meliputi Pinisi, Ballak To Kajang, Laha Bete, Bosara, Barongko, Mattompang Arajang, Songkok Recca, Mappadendang, Mappacci, Lipa Sabbe, Lawa Bale, Tudang Sipulung, Simfoni Kecapi, Pakkecapi Sidrap, Marakka Bola, Sere Api, Mattojang Paccekke, Passureq, Maddoja Bine, dan Mallangi Arajang ri Goarie—mewakili beragam wilayah di Sulawesi Selatan sekaligus beragam bentuk pengetahuan, tradisi, seni, keterampilan, dan praktik budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. Cerita bergambar menghadirkan pendekatan yang lebih komunikatif, sementara fitur audio multilingual memungkinkan pengguna mengenal narasi budaya dalam bahasa pilihan mereka.
Dalam kegiatan tersebut, Arisal, S.Pd., M.Pd. dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan tampil sebagai pembahas dengan materi bertajuk “Dari Warisan Menjadi Pembelajaran: Mengenal WBTb Sulawesi Selatan dan Menghadirkan Nilai Budayanya di Ruang Kelas.” Ia menekankan bahwa warisan budaya menyimpan peluang besar untuk diolah menjadi sumber pembelajaran kontekstual, bergantung pada kreativitas guru dalam menghubungkan unsur budaya dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran.
“Pelestarian tidak semata-mata menjaga agar budaya tidak hilang. Salah satu bentuk pelestarian yang penting adalah membuat generasi berikutnya merasa bahwa budaya itu masih dekat, masih penting, dan masih memiliki arti bagi kehidupan mereka,” ujar Arisal. Ia menambahkan, teknologi seperti cerita bergambar dan audio multilingual memungkinkan pengetahuan budaya tidak hanya dibaca, tetapi juga didengar dan dipelajari lewat medium yang lebih dekat dengan keseharian peserta didik.
Melalui pendekatan ini, WBTb tidak lagi ditempatkan semata sebagai catatan masa lalu, melainkan sumber belajar untuk memahami identitas, nilai, pengetahuan lokal, bahasa, sejarah, hingga kehidupan masyarakat. Satu materi WBTb bahkan dapat dikembangkan guru menjadi beragam aktivitas pembelajaran membaca, menulis, berdiskusi, bercerita, mengenal bahasa daerah, hingga menghasilkan karya kreatif. Diseminasi di Kabupaten Soppeng menjadi salah satu tahap dalam upaya memperluas akses masyarakat terhadap informasi WBTb Sulawesi Selatan, sekaligus memperkuat pemanfaatannya di lingkungan pendidikan. Setelah melalui tahap pengembangan dan uji publik di sekolah, kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi pembelajaran memastikan warisan budaya Sulawesi Selatan tidak sekadar tercatat, tetapi terus dikenal, dipahami, dan dimaknai oleh generasi berikutnya. (Tim Sorot Media Soppeng)
