Ibaratnya sudah jatuh ketimpa tangga pula. Begitulah nasib guru di negeri ini.
Adanya konten dan pemberitaan yang mengatakan bahwa guru-guru di negeri ini melakukan sedekah nilai kepada siswa, sontok membuat para guru-guru meradang. Pasalnya apa yang ditudingkan kepada mereka, sebuah sindiran pedas bagi para pendidik yang selama ini mengabdi dengan penuh ikhlas.
Malang betul nasib guru.
Sudahlah prank naik gaji.
Lalu dituduh korupsi.
Sekarang, dibilang gemar bersedekah nilai.
Sehubungan dengan kalimat “ Sedekah Nilai “ membuat guru-guru sontok berkomentar. Mereka menganggap apa yang beredar sebuah tamparan bagi mereka. dan yang membuat dan menyebarkan statement ini tidak tahu seluk beluk mengenai sistem yang ada di dunia pendidikan.
Entah dari mana kondensator tersebut langsung membuat konten tanpa melakukan investigasi di lapangan. Mungkin saja kondensator tersebut hanya mendengar satu sumber saja tanpa melakukan konfirmasi ke sumber yang tepat.
Memanglah di zaman serba digital ini, banyak pembuat konten agar trafiknya cepat naik dan menghasilkan cuan di PF Online selalu mencari sensasi agar trafiknya melejit, tanpa melakukan investigas terlebih dahulu. Dalam artian main hantam kromo saja, tanpa memperdulikan dampak yang akan timbul dari konten yang dibuatnya.
Berkaitan dengan video dan konten Sedekah Nilai, beberapa komentar dari beberapa guru mengenai kalimat ini yang dilansir dari beberapa komentar tentang konten yang dianggap tidak tahu menahu terhadap sistem pendidikan di negeri ini
Nun kata orang, banyak guru-guru di Indonesia selalu mendongkrak nilai rapor muridnya. Dikasih nilai tak sesuai kemampuan asli. Yang harusnya dapat nilai rendah, tapi disulap menjadi tinggi. Yang nilainya tinggi, agak ditinggikan sedikit lagi.
Ada yang bilang itu nilai kasihan. Ada yang bilang juga demi menjaga martabat diri dan sekolah. Nilai murid harus tinggi, agar gurunya tampak berdedikasi. Nilai murid harus tinggi, agar sekolah tampak berprestasi. Sehingga nilai rapor itu hanya rekayasa belaka. Tidak menggambarkan capaian belajar murid yang sebenarnya. Sebuah tipuan jahat luar biasa. Dan dalam hal ini, para guru-lah yang dianggap biang keroknya.
Dari situlah munculnya sebuah pernyataan kesimpulan : Banyak Guru Sedekah Nilai.
Sebuah kesimpulan yang kemudian disepakati begitu saja oleh seluruh dunia.
Entah dari mana datanya.
Orang-orang lupa. ‘Sedekah’ itu biasanya diberikan dengan tulus ikhlas tanpa paksaan dari siapapun.
Sedangkan mendongkrak nilai yang dilakukan oleh guru tadi, dilakukan karena banyak faktor pendorong di belakangnya. Yang membuat guru tidak bisa memilih untuk tidak melakukannya. Jika ia tidak menurut, bisa-bisa karirnya jadi taruhan.
Apa saja faktornya?
Tidak akan pernah saya ungkap.
Yang pasti, semua guru tahu persis itu apa saja.
Percayalah, Pak. Kami tidak pernah sedekah nilai. Kami hanya ‘dipaksa’ oleh sistem, untuk mendongkrak nilai saja.
Munculnya sebuah nilai bukan hanya berasal dari pengamatan pengetahuan dan keterampilan peserta didik, namun ada banyak hal yg bisa dijadikan sebagai dasar oleh guru-guru untuk mendongkrak nilai dalam bentuk angka yg biasa disebut Nilai Kasihan atau Sedekah Nilai tersebut.
Dan tidak bisa dipungkiri bahwa penilaian diluar pengetahuan dan keterampilan itu masing-masing berbeda-beda setiap guru.
Mencerdaskan anak bangsa tidak akan mampu diwujudkan jika hanya sebatas pengetahuan dan keterampilan saja, namun ada pendidikan karakter yang juga harus dijadikan sebagai dasar penilaian oleh lembaga pendidikan baik formal, nonformal, maupun swasta maupun lembaga pendidikan yg dibentuk oleh masyarakat.
Nilai kasihan atau Sedekah nilai itu hanya persoalan bahasa, namun dibalik nilai itu ada rasa didalam hati yg menentukan bahwa peserta didik tersebut layak untuk diberi nilai kasihan, layak mendapatkan sedekah nilai. Sekalipun itu diluar dari tuntutan sistem.
Apa salahnya kita membenarkan adanya bahasa Nilai Kasihan atau Sedekah Nilai?
Kalau memang benar kita melakukan itu…
Guru melakukan itu bukan tanpa dasar yg masuk akal.
“Nilai Kasihan” atau “Sedekah Nilai” sesungguhnya adalah gejala dari ketimpangan dalam sistem pendidikan itu sendiri. Praktik semacam ini bukan muncul dari ketulusan atau karakter guru, melainkan sebagai bentuk kompromi terhadap tuntutan administratif yang kaku dan menekan. Sistem menuntut kelulusan massal, akreditasi tinggi, dan target capaian kurikulum, sehingga guru seringkali terjebak dalam dilema: mempertahankan integritas penilaian atau tunduk pada tekanan agar ‘semua harus tuntas’.
Memberikan nilai di luar kemampuan nyata siswa justru mencederai esensi pendidikan itu sendiri. Ini bukan soal guru berhati lembut, tetapi tentang bagaimana sistem tidak memberi ruang yang cukup bagi proses pembinaan karakter secara alami. Jika karakter dijadikan alasan, maka seharusnya nilai karakter ditampilkan melalui instrumen yang jelas dan adil, bukan dengan cara menyisipkan angka di rapor tanpa dasar objektif.
Pendidikan karakter tidak akan tumbuh dari belas kasihan. Sebaliknya, karakter justru dibentuk melalui kejujuran, ketegasan, dan konsekuensi atas usaha. Memberi nilai kasihan adalah membiasakan siswa untuk tidak menghadapi kenyataan—bahwa dalam hidup, kerja keras adalah satu-satunya jaminan pencapaian, bukan belas kasihan.
Jadi, bukan membenarkan ‘sedekah nilai’, tapi mereformasi sistem lah yang lebih penting—agar guru tidak lagi perlu “menolong” siswa lewat angka kosong yang menipu, melainkan mendampingi mereka lewat pembinaan yang jujur dan adil.”
Istilah Sedekah Nilai, entah dari mana asalnya, yang jelas apa yang terjadi di sistem pendidikan di satuan pendidikan dapat dikatakan rumit. Disatu sisi guru yang mengabdikan diri dengan penuh keikhlasan dituntut untuk dapat menjadi citra pendidikan di negeri ini. Dan memberikan nilai pada anak didik pun itu melalui suatu proses bukan karena merasa kasihan atau memberikannya secara cuma-cuma. Tapi di satuan pendidikan ada yang dinamakan remedial (pengulangan terhadap nilai yang belum tercapai terhadap ketuntasan materi, termasuk sikap, disiplin termasuk jg penilaian).
Jika dikatakan memberikan nilai / atau bersedekah, itu sesuatu tidak serta merta diberikan kepada siswa, tetapi ada proses dan prosedur yang mereka (siswa,red) jalani agar nilai mereka yang tadi buruk menjadi baik. Dan ketika siswa mendapatkan nilai buruk pastinya akan mendapat stigma buruk guru dan sekolah lagi. Jadi pada situasi ini guru sebagai pendidikan selalu menjadi tempat kesalahan. Jika membiarkan siswa mendapatkan hasil buruk dan tidak memberikan kesempatan untuk pengulangan menyalahi lagi sistem dan aturan serta pendidikan. Jadi guru harus berbuat apa??( Rizal )
Berita ini Hak milik @https://sorotmedia.my.id.
