Oleh: Dr. Irwan, S.Pd,. S.Sos,. M.Pd (Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng)
Kabupaten Soppeng dikenal sebagai salah satu permata di jantung Sulawesi Selatan. Alamnya indah, budayanya kaya, dan masyarakatnya ramah. Dari permandian alam Lejja yang menenangkan, panorama perbukitan Walempong yang memesona, hingga tradisi adat yang sarat makna semua menjadi potensi luar biasa bagi dunia pariwisata.
Namun, di tengah potensi besar itu, muncul pertanyaan penting: apakah generasi muda kita sudah benar-benar mengenal dan mencintai kekayaan daerahnya sendiri?
Sebagai pendidik dan bagian dari Dewan Pendidikan Soppeng, saya sering melihat betapa jauhnya anak-anak sekolah dari realitas pariwisata di sekitar mereka. Banyak siswa mengenal Bali atau Yogyakarta sebagai destinasi wisata terkenal, tapi belum tentu tahu cerita budaya di kampungnya sendiri. Padahal, kecintaan terhadap daerah asal adalah langkah pertama untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan.
Belajar Pariwisata dari Sekitar Sekolah
Melalui dunia pendidikan, kita bisa mulai menumbuhkan kesadaran itu sejak dini. Sekolah tidak hanya tempat belajar matematika dan bahasa, tetapi juga ruang hidup untuk mengenal alam, budaya, dan masyarakat.
Bayangkan jika anak-anak SD dan SMP diajak untuk menjelajah wisata di sekitar mereka. Misalnya, belajar tentang sumber air panas Lejja dari sisi geologi dan sosialnya, atau mengenal tradisi Maccera Tappareng sebagai warisan budaya yang harus dijaga. Dengan cara ini, pelajaran di sekolah menjadi lebih kontekstual dan menyenangkan.
Beberapa ide sederhana yang bisa dijalankan antara lain:
- Kelas Lapangan Wisata Lokal, di mana siswa belajar langsung di lokasi wisata terdekat sambil berdiskusi tentang nilai sosial dan lingkungan.
- Profil Wisata Sekolah, program proyek kreatif di mana siswa membuat video pendek atau pameran kecil tentang potensi wisata di daerahnya.
- Duta Cilik Pariwisata Soppeng, ajang penghargaan bagi siswa yang aktif mengenalkan wisata daerah lewat media sosial sekolah atau kegiatan komunitas.
Kegiatan seperti ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai sosial, seperti kerja sama, kepedulian, dan rasa bangga terhadap budaya lokal.
Kolaborasi Jadi Kunci
Tentu, sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Program seperti ini butuh dukungan semua pihak: pemerintah daerah, dinas pendidikan, dinas pariwisata, komunitas budaya, hingga pelaku usaha kecil di sektor pariwisata.
Setiap pihak memiliki perannya. Pemerintah bisa menyediakan pelatihan dan sarana edukasi wisata. Guru dan kepala sekolah bisa mengintegrasikan program ini dalam kegiatan pembelajaran. Sementara tokoh masyarakat dan orang tua bisa menjadi jembatan pengetahuan budaya kepada anak-anak.
Dengan kolaborasi ini, kita bisa membangun semangat “wisata berbasis pendidikan” yang bukan sekadar mengunjungi tempat indah, tetapi juga belajar memahami makna sosial dan nilai budaya di baliknya.
Soppeng Sebagai Kelas Sosial Terbuka
Dalam kacamata sosiologi, pariwisata bukan hanya urusan ekonomi, melainkan juga proses sosial—tentang bagaimana manusia berinteraksi, membangun identitas, dan menjaga harmoni dengan lingkungannya.
Soppeng punya potensi besar sebagai “kelas sosial terbuka”, tempat anak-anak belajar langsung dari realitas masyarakatnya. Dari pasar tradisional, mereka bisa belajar tentang ekonomi lokal. Dari tradisi adat, mereka memahami nilai kebersamaan. Dari alamnya, mereka belajar tentang tanggung jawab menjaga lingkungan.
Ketika pendidikan dan pariwisata berjalan beriringan, kita tidak hanya mencetak siswa yang cerdas, tapi juga generasi yang peka, peduli, dan bangga terhadap daerahnya.
Menanam Benih Cinta Daerah
Ada pepatah Bugis yang bijak: “Riala nasabae ri lino, iya nasabae ri ade’e”, siapa yang mencintai tanahnya, dialah yang menjunjung adatnya.
Dengan menumbuhkan cinta wisata sejak dini, kita sebenarnya sedang menanam benih cinta daerah yang akan tumbuh menjadi rasa bangga dan tanggung jawab sosial di masa depan.
Langkah kecil di sekolah bisa menjadi gelombang besar bagi kemajuan pariwisata daerah. Mari menjadikan pendidikan sebagai pintu masuk untuk membangun generasi muda yang tidak hanya mengenal wisata lokal, tetapi juga menjaganya dengan hati.
Karena mencintai pariwisata Soppeng berarti mencintai tanah kelahiran sendiri dan dari sanalah masa depan daerah yang berbudaya dan berdaya akan tumbuh.















