Artikel

Digitalisasi Desa ” Perspektif Sosiologi terhadap Transformasi Media Sosial di Pedesaan”

52

ARTIKEL

Penulis. Muhammad Rizal. ( Mahasiswa Universitas Sawerigading Makassar)

Dahulu, sosiologi pedesaan identik dengan studi tentang gotong royong di sawah, struktur kekerabatan yang erat, dan pola komunikasi tatap muka (face-to-face). Namun, masuknya internet dan media sosial telah mengubah lanskap tersebut secara radikal. Media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang sosial baru yang mendefinisikan ulang cara masyarakat desa berinteraksi. Kehidupan pada masyarakat desa kini mengalami sebuah pergeseran yang sangat signifikan dengan bersinggungan langsung dengan perkembangan digitalisasi. Berikut beberapa perubahan yang terjadi pada masyarakat pedesaan dengan kian maraknya perkembangan media sosial.

1. Pergeseran Pola Interaksi: Dari Paguyuban ke Digital

Sosiolog Ferdinand Tönnies membagi kelompok sosial menjadi Gemeinschaft (Paguyuban) dan Gesellschaft (Patembayan). Masyarakat desa secara tradisional adalah penganut Gemeinschaft yang kental dengan kedekatan personal.

  • Dulu: Informasi menyebar di balai desa atau warung kopi melalui obrolan langsung.
  • Sekarang: Grup WhatsApp desa atau Facebook Group menjadi “balai warga” digital. Keuntungannya adalah kecepatan informasi, namun resikonya adalah berkurangnya kedalaman interaksi fisik.

2. Perubahan Struktur Otoritas dan Status Sosial

Media sosial menciptakan demokratisasi informasi, namun juga mengubah struktur kekuasaan di desa.

  • Erosi Otoritas Tradisional: Jika dulu tokoh masyarakat atau perangkat desa adalah sumber informasi utama, kini pemuda desa yang “melek teknologi” memiliki pengaruh besar. Mereka menjadi opinion leaders baru karena kemampuan mengolah informasi dari internet.
  • Prestise Digital: Kepemilikan gawai canggih dan jumlah pengikut (followers) mulai menjadi indikator status sosial baru, bersaing dengan kepemilikan tanah atau ternak.

3. Dampak Ekonomi: Komodifikasi dan Literasi Digital

Secara sosiologis, media sosial telah memicu perubahan perilaku ekonomi (Sosiologi Ekonomi).

  • Pemasaran Produk Lokal: Instagram dan TikTok memungkinkan petani atau pengrajin desa menjual produk langsung ke konsumen kota tanpa perantara (tengkulak). Ini memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
  • Wisata Desa: Banyak desa yang mendadak populer karena unggahan foto “estetik” di media sosial, yang kemudian mengubah orientasi profesi warga dari agraris ke sektor jasa pariwisata.

Dengan masuknya pengaruh perkembangan media sosial ini ke seluruh pelosok pedesaan tentunya membawa dampak pada kehidupan masyarakat dan merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi pengguna dan pemerintah dalam persoalan penggunaan media sosial. 

Dan merupakan tantangan sosiokultural. Transformasi ini tidak selalu mulus. Ada beberapa fenomena negatif yang muncul seperti, 

FenomenaPenjelasan Sosiologis
Gegar Budaya (Culture Shock)Nilai-nilai luar yang masuk lewat media sosial sering kali berbenturan dengan norma lokal yang konservatif.
Penyebaran HoaksKurangnya literasi digital membuat masyarakat desa sering menjadi sasaran empuk berita palsu, yang dapat memicu konflik antarwarga.
KonsumerismePaparan gaya hidup perkotaan di media sosial mendorong perilaku konsumtif pada masyarakat desa yang sebelumnya hidup sederhana.

Dengan perkembangan dunia digital, khususnya media sosial, budaya dan kultur kehidupan masyarakat ikut mengalami perubahan.

Seperti halnya Tiktok yang saat ini menjadi ajang bergengsi bagi kehidupan masyarakat, dimana TikTok telah mengubah pemuda – pemudi desa dari sekadar konsumen menjadi produsen budaya. Jika dulu tren selalu datang dari kota ke desa (top-down), kini desa bisa menciptakan trennya sendiri.

Dalam sosiologi, ada istilah Habitus (Pierre Bourdieu) yang menjelaskan bagaimana lingkungan membentuk kebiasaan.

  • Dulu: Ekspresi diri pemuda desa cenderung terbatas pada norma kolektif yang kaku agar tidak dianggap “aneh” oleh tetangga.
  • Sekarang: TikTok memberikan panggung untuk berekspresi secara individualistis. Menari, melakukan lipsync, atau komedi situasi di tengah sawah bukan lagi hal yang memalukan, melainkan cara untuk mendapatkan validasi sosial berupa likes dan comments.

TikTok menjadi jendela dunia yang sangat lebar bagi pemuda desa. Hal ini memicu fenomena Akulturasi Digital:

  • Gaya Bicara & Fashion: Pemuda desa mulai mengadopsi bahasa “anak Jakarta” atau gaya berpakaian streetwear yang mereka lihat di TikTok. Ini menciptakan identitas hibrida, fisik berada di desa, namun mentalitas dan gaya hidup berkiblat ke kota atau global (K-Pop, tren viral).
  • Standar Kesuksesan: Munculnya influencer sukses dari latar belakang sederhana di TikTok membuat profesi seperti petani atau peternak mulai dianggap “kurang keren” dibanding menjadi pembuat konten (content creator).

Sesuatu yang dulu dianggap biasa atau bahkan “ndeso” (kampungan), kini dikemas ulang menjadi konten yang menarik:

Kita mengambil contoh yang simple saja, seperti Video memasak dengan kayu bakar atau memanen padi dengan sinematografi yang apik sering kali viral. Secara sosiologis, ini adalah bentuk komodifikasi, di mana aktivitas rutin pedesaan diubah menjadi nilai tukar (konten) yang mendatangkan keuntungan finansial atau popularitas.

Munculnya budaya TikTok seringkali memicu konflik nilai dengan generasi tua,

Norma Kesopanan, dimana orang tua mungkin menganggap perilaku berjoget atau berpakaian terbuka di TikTok melanggar norma unggah-ungguh (tata krama) setempat.

Individualisme vs Kolektivisme,  pemuda yang terlalu fokus pada ponselnya demi konten sering dianggap kurang berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti atau hajatan desa, yang bisa mengikis solidaritas sosial tradisional.

Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya alat, tapi juga pengubah struktur berpikir pada kehidupan masyarakat dewasa ini. (**)

Exit mobile version