Artikel

SATRIA-1 KIAN MENGANGKASA

436
Satelit Satria 1 Komgidi

70% KAPASITAS SATELIT PEMERINTAH TERPAKAI UNTUK DIGITALISASI LAYANAN PUBLIK DI INDONESIA

Sorot Media- Jakarta.

Upaya pemerataan akses internet di Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan bahwa penggunaan kapasitas Satelit Republik Indonesia (Satria-1) telah mencapai lebih dari 70% di tahun 2025. Angka ini menegaskan peran krusial Satria-1 dalam menyediakan konektivitas bagi berbagai layanan publik pemerintah, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhilah Mathar, mengungkapkan hal tersebut saat meninjau Puskesmas Camplong, Kabupaten Kupang, pada Rabu (11/6/2025). “Saat ini sudah lebih dari 70% digunakan kapasitas Satria-1,” ujarnya, menunjukkan tingkat pemanfaatan yang tinggi dari satelit berkapasitas 150 Gbps tersebut.

Akselerasi Konektivitas untuk Layanan Esensial

Pemanfaatan Satria-1 secara optimal ini selaras dengan komitmen pemerintah untuk mempercepat transformasi digital. Satelit ini dirancang khusus untuk menunjang kebutuhan di 37 ribu titik akses internet bagi fasilitas layanan publik di daerah 3T, termasuk puskesmas, sekolah, kantor pemerintah daerah, hingga pos keamanan. Dengan demikian, masyarakat di pelosok negeri kini dapat merasakan manfaat internet untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, layanan kesehatan, serta administrasi pemerintahan yang lebih efisien.

Hingga 10 Juni 2025, data menunjukkan pencapaian yang membanggakan. Sebanyak 27.858 lokasi layanan publik telah terlayani dengan kapasitas Satria-1, sementara 6.747 desa kini menikmati akses internet dan sinyal seluler. Laporan ini disampaikan kepada Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, yang juga turut memonitor konektivitas digital secara daring.

“Melalui kerja keras dan kolaborasi berbagai sektor, total sebanyak 27.858 lokasi layanan publik dengan kapasitas Satria-1 dan 6.747 desa kini telah terlayani akses internet dan sinyal seluler,” ungkap Fadhilah Mathar, yang akrab disapa Indah.

Strategi Optimalisasi dan Peningkatan Kapasitas

Mengingat kebutuhan internet yang terus meningkat dan semakin banyaknya layanan pemerintahan yang beralih ke basis digital, Bakti Komdigi telah menyiapkan strategi untuk memastikan ketersediaan konektivitas yang memadai. Selain terus membangun IP transit di berbagai daerah pelosok Tanah Air untuk mengoptimalkan penggunaan Satria-1, Bakti Komdigi juga akan mengalihkan layanan internet berbasis satelit tersebut untuk penggunaan prioritas, memastikan efisiensi layanan.

Tidak hanya itu, Bakti Komdigi juga menjalin kerja sama dengan Telkomsat. Pemanfaatan Satelit Merah Putih milik Telkomsat akan digunakan untuk meningkatkan kecepatan internet di Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) yang telah dibangun Bakti di daerah pelosok. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa meskipun kapasitas Satria-1 terbatas, transformasi digital di daerah 3T tetap berjalan lancar.

Sebagai informasi, pengadaan Satria-1 merupakan proyek strategis pemerintah melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dengan anggaran sebesar Rp 8 triliun. Konsorsium PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menjadi pemenang lelang proyek ini pada 26 April 2019. Kehadiran Satria-1 menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam mewujudkan pemerataan akses digital demi kemajuan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. ( Tim Redaksi Jakarta )

https://sorotmedia.my.id/wp-content/uploads/2025/06/SOrot-Media.mp4

Exit mobile version