Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaKampusPendidikanProfil

UNSA Makassar. Menelisik Dunia Jurnalisme di Era Digital.

308
×

UNSA Makassar. Menelisik Dunia Jurnalisme di Era Digital.

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

“ Antara Fakta, Hoaks, dan Pilar Etika “

Example 300x600
Dr. Adi Sumandiyar S.Sos,.M.Si

Sorot Media-Makassar- Kampus Sawerigading Makassar melaksanakan Seminar Sehari dengan mengangkat tema “ Menelisik Dunia Jurnalisme di Era Digital : Antara Fakta, Hoaks, dan Pilar Etika.

Rektor Universitas Sawerigading Makassar, Prof.dr. A.Melantik Rompegading,S.H.,M.H yang diwakili oleh Wakil Rektor I, Dr. Adi Sumandiyar S.Sos,.M.Si,dalam sambutannya mengatakan, Di tengah arus informasi yang deras dan tak terbendung di era digital, peran jurnalisme yang kredibel semakin krusial. Namun, lanskap media saat ini juga diwarnai tantangan serius, mulai dari masuknya penyebaran hoaks hingga erosi kepercayaan publik. Memahami seluk-beluk dunia jurnalisme, termasuk pondasi faktual, ancaman disinformasi, dan pentingnya etika media, menjadi esensial bagi masyarakat luas.

Ditambahkannya, pelaksanaan seminar sehari ini, bertujuan agar para mahasiswa yang ada di Universitas Sawerigading Makassar benar-benar tahu apa inti dari Jurnalis dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat.

Pada Seminar ini hadir juga, Asbullah Thamrin S.H.,M.H (Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sawerigading Makassar) selaku moderator.

Adapun para narasumber yang membawa materi, Rahma Amin S.Sos.,M.,Si.(Dosen Fisipol Universitas Sawerigading Makassar) dan Soeparno ( Jurnalis Warta Sulsel ). 

Rahma Amin, S.Sos.,M.Si mengungkapkan ” Jurnalisme Berbasis Fakta: Pilar Utama Kepercayaan. Inti dari jurnalisme yang bertanggung jawab terletak pada penyampaian fakta yang akurat dan terverifikasi. Wartawan profesional dididik untuk melakukan riset mendalam, mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang kredibel, dan melakukan konfirmasi silang sebelum mempublikasikan sebuah berita. Proses ini melibatkan ketelitian, objektivitas, dan komitmen untuk menyajikan kebenaran kepada publik. Keberadaan media yang menjunjung tinggi fakta menjadi benteng penting dalam melawan narasi palsu dan informasi yang menyesatkan.

Lebih lanjut Bu Rahma (sapaan akrabnya) mengatakan, Ancaman Hoaks di Era Digital: Tantangan Serius bagi Jurnalisme. Perkembangan teknologi dan media sosial telah mempermudah penyebaran informasi, namun disisi lain juga membuka celah bagi penyebaran hoaks atau berita bohong. Informasi yang tidak benar, seringkali dirancang untuk memanipulasi opini atau menciptakan keresahan, dapat menyebar dengan cepat dan sulit dikendalikan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi jurnalisme kredibel, yang harus bekerja lebih keras untuk memverifikasi informasi dan mengedukasi masyarakat tentang cara membedakan fakta dari fabrikasi.Sehingga masyarakat luas harus berhati-hati dalam menerima informasi yang disebarluaskan oleh kelompok, atau sebuah organisasi.

Dalam menjalankan tugasnya, jurnalisme memiliki kode etik yang menjadi panduan moral. Etika media mencakup prinsip-prinsip seperti objektivitas, keberimbangan, akurasi, penghormatan terhadap privasi, dan tanggung jawab sosial. Wartawan dituntut untuk menghindari konflik kepentingan, tidak menerima suap atau imbalan yang dapat mempengaruhi pemberitaan, serta memberikan ruang bagi hak jawab jika terjadi kesalahan informasi. Kepatuhan terhadap etika media adalah fondasi penting untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan publik terhadap jurnalisme.

Di tengah kompleksitas informasi saat ini, literasi media menjadi semakin penting bagi masyarakat. Kemampuan untuk berpikir kritis, mengevaluasi sumber informasi, dan mengidentifikasi potensi hoaks adalah keterampilan yang perlu dimiliki setiap individu. Media yang kredibel juga memiliki peran dalam meningkatkan literasi media masyarakat melalui edukasi dan transparansi dalam proses kerjanya, tutur Bu Rahma

Sementara itu Soeparno, memaparkan, “ Dunia jurnalisme terus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan perilaku konsumen media. Inovasi dalam format penyajian berita, pemanfaatan data, dan interaksi dengan audiens menjadi kunci untuk tetap relevan dan mempertahankan peran pentingnya dalam masyarakat. Kolaborasi antara jurnalis, akademisi, dan masyarakat sipil juga diperlukan untuk memperkuat ekosistem informasi yang sehat dan terpercaya.”

Soeparno juga menambahkan, “ Dengan memahami fondasi faktual, mewaspadai ancaman hoaks, dan menjunjung tinggi etika media, jurnalisme dapat terus menjalankan perannya sebagai pilar demokrasi dan sumber informasi yang dapat diandalkan bagi masyarakat. Upaya bersama antara media, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk menciptakan ruang informasi yang lebih sehat dan kredibel di era digital ini.”

Melihat perkembangan media digital yang semakin banyak bermunculan, seyogyanya masyarakat perlu memahami pemanfaatan dari media tersebut. Dan tahu tentang dunia jurnalis. Lalu menelaah berita-berita yang menjadi santapan setiap hari. 

Banyak informasi (berita, red) tiba-tiba bermunculan di media, baik media online maupun media-media sosial tetapi masyarakat belum tahu darimana sumber dan kebenaran informasi yang disajikan para pembuat informasi tersebut. (Sorot Media, )

Example 300250
Example 120x600