OPINI-Sorot Media – Hasil survei terbaru di Indonesia, khususnya di Kota Makassar, menunjukkan gambaran suram mengenai tingkat literasi. Yang lebih mengkhawatirkan, masalah ini tidak hanya terbatas pada siswa, tetapi juga merambah ke kalangan pendidik. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kualitas pendidikan dan mendesak adanya langkah komprehensif untuk mengatasinya.

Data dari berbagai sumber, termasuk Asesmen Nasional dan studi independen, memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa di berbagai jenjang pendidikan masih memiliki kemampuan membaca dan memahami teks yang rendah. Namun, yang mengejutkan, sejumlah guru juga terindikasi memiliki tantangan serupa. Hal ini terlihat dari kesulitan mereka dalam memahami materi pelatihan yang kompleks, menyusun perangkat pembelajaran yang kaya literasi, hingga kurangnya kebiasaan membaca dan mengembangkan wawasan.
Di Kota Makassar, dari 148 SMP swasta dan 55 SMP negeri, sekitar 85 persen sekolah menunjukkan tingkat literasi yang sangat kurang. Ini terlihat jelas pada Rapor Pendidikan Tahun 2024, yang hasilnya berasal dari pelaksanaan Asesmen Nasional tahun sebelumnya. Hampir seluruh sekolah tercatat “merah” pada rapor literasi dan numerasi.
Sementara untuk tingkat Sekolah menengah Atas ( SMA ) hampir sama, tingkat literasi yang begitu rendah. Hal ini dapat dilihat dari 96 SMA Swasta dan 26 jumlah SMA Negeri di kota ini mengalami kondisi yang sama dengan SMP.
Rendahnya tingkat literasi pada rapor pendidikan sekolah tentu tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada siswa yang kurang memahami soal narasi. Peran guru sebagai pendidik juga sangat krusial dalam masalah literasi ini.
Pada pelaksanaan Asesmen Nasional, bukan hanya siswa yang ikut, tetapi guru dan tenaga pendidik juga mengisi Survei Lingkungan Belajar yang soalnya berbentuk narasi. Hasil penelitian menunjukkan banyak guru kurang memahami soal tersebut karena enggan membaca panjang lebar.

“Bagaimana mungkin kita mengharapkan siswa memiliki kemampuan literasi yang baik jika para pendidiknya sendiri juga bergumul dengan hal yang sama?” ujar seorang pengamat pendidikan. “Guru adalah garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa, dan kemampuan literasi yang kuat adalah fondasi utama dalam menjalankan tugas tersebut.”
Rendahnya literasi pada guru dapat termanifestasi dalam berbagai hal, seperti kesulitan menafsirkan kurikulum secara mendalam, kurangnya variasi metode pengajaran, hingga terbatasnya kemampuan memberikan contoh kontekstual yang menarik bagi siswa. Akibatnya, transfer ilmu pengetahuan menjadi kurang efektif dan minat belajar siswa pun terpengaruh.
Pemerintah daerah dan dinas pendidikan setempat menyadari urgensi masalah ini. Berbagai upaya mulai digalakkan, termasuk pelatihan literasi intensif bagi guru, penyediaan bahan bacaan yang beragam dan berkualitas di sekolah, serta program yang mendorong budaya membaca di lingkungan pendidikan. Namun, tantangan yang dihadapi cukup besar dan membutuhkan keterlibatan aktif dari semua pihak, termasuk sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Ini adalah tanggung jawab bersama. Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas guru melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan. Namun, inisiatif dari masing-masing individu, baik guru maupun siswa, juga sangat penting,” imbuh seorang pejabat dinas pendidikan.
Rendahnya tingkat literasi, khususnya pada siswa dan anak-anak umumnya, juga dikaitkan dengan maraknya gempuran teknologi, tontonan, dan gim daring yang kian mengganggu keseharian mereka.
Para pengamat pendidikan menekankan bahwa peningkatan literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan yang holistik dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan budaya literasi yang kuat di seluruh lapisan masyarakat, dimulai dari para pendidik sebagai teladan utama.
Sangat ironis, ketika seorang guru diberikan sebuah bacaan, lalu berkata, “Saya sangat malas membaca.” Bagaimana mungkin menekankan kepada anak didik untuk berliterasi sementara guru saja malas berliterasi?
Diharapkan dengan adanya kesadaran akan permasalahan ini dan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, tingkat literasi di Sulawesi Selatan, dan Indonesia pada umumnya, dapat segera meningkat, menciptakan generasi yang cerdas, berpengetahuan luas, dan berdaya saing global.




















