Sorot Media-Jakarta. 13 Maret 2026

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Abdul Mu’ti, kembali membawa gebrakan baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Kali ini, ia merombak total sistem Pekerjaan Rumah (PR) bagi siswa, menggeser paradigma dari sekadar menjawab soal menjadi penguatan budaya literasi.
Dalam kebijakan terbarunya, Abdul Mu’ti menekankan bahwa PR tidak boleh lagi hanya menjadi beban hitungan atau hafalan. Fokus utama kini dialihkan pada kemampuan analisis dan pemahaman mendalam siswa terhadap bacaan.
Jika sebelumnya PR identik dengan kumpulan soal latihan tradisional, kini murid didorong untuk lebih banyak membaca. Bentuk tugas yang diberikan akan diarahkan pada resensi buku atau resume tulisan.

Langkah ini diambil untuk memastikan siswa benar-benar berinteraksi dengan teks dan mampu menyarikan informasi secara mandiri, bukan sekadar mencari jawaban instan.
Ada satu aturan menarik dalam kebijakan ini: resume atau resensi tersebut wajib dikerjakan dengan tulis tangan.
Kebijakan wajib tulis tangan ini bukan tanpa alasan. Hal ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan Kemampuan Literasi: Memperkuat hubungan kognitif antara membaca dan menulis.
- Melatih Daya Analisis: Mendorong siswa memahami struktur kalimat dan alur pemikiran.
- Membangun Budaya Baca: Memaksa siswa untuk benar-benar membaca sumber bacaan secara utuh.
“Perubahan ini bertujuan meningkatkan budaya baca, melatih daya analisis, dan mengurangi beban mental siswa terkait PR yang terlalu teoritis,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangannya.
Meski terdapat aturan baru yang cukup spesifik, Mandikdasmen menegaskan bahwa kebijakan ini tetap memberikan ruang fleksibilitas bagi para guru. Harapannya, PR tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan sarana edukatif yang lebih menyenangkan dan bermakna bagi perkembangan mental murid.
Dengan transformasi ini, sekolah diharapkan menjadi tempat yang melahirkan generasi kritis, bukan sekadar mesin penghafal rumus.

Jika dilihat gerakan yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, sebenarnya bukanlah hal baru. Tapi hal – hal diatas telah lama dilakukan oleh para guru – guru. Dimana dulu urid diminta untuk membuat rangkuman dari materi yang diberikan oleh guru, lalu murid memaparkan hasil rangkuman mereka di depan kelas. Ini menandakan sistem membuat rangkuman materi dikembalikan dengan nama dan sistem yang baru yang dianggap sangat bermanfaat dalam menghayati, memahami dan mampu menganalisis materi. ( Tim Redkasi Nasional )




















